Jumat, 03 Juli 2009

Terhanyut Kelezatan Gulai Baung

Kabar kedatanganmu selalu ditunggu. Kau adalah masakan super extra lezat nan nikmat buatan seorang ibu sahabat. Berkuah manis asem asin sekaligus pedas bercampur aduk. Begitu pantas untuk disantap. Begitu disesali untuk dilewatkan.

Ingat akan lapar dan lupa akan kenyang. Aku terhipnotis patuhi perintah. Perintah mencicipi sampai lupa diri. Gigi seri sadis memotong dagingmu. Gigi taring brutal mengoyak dagingmu. Gigi geraham gencar menggiling halus dagingmu. Barisan gigi dan lidah bergoyang dalam proses rotasi penghancuran. Kau begitu melekat dihati. Aromamu masih tersisa dihidung. Semerbak mewangi nikmatmu.

Aku berhak menyantapmu. Kau tak berhak menolak. Kau hanya punya hak untuk disantap. Hak aku ini mutlak melahapmu. Sendawa bersahut-sahutan. Dan aku ucapkan "Alhamdulillah". Diri dan hati ini puas!


23.41 Fri
03/07/2009

Satu Malam Tak Bersahabat

Malam terasa panas berujung gerah. Cukup aneh tapi nyata dan realita biasa. Salah satu bentuk dari hasil pemanasan global. Dulu mereka sangat pengertian terhadap manusia. Namun pengertian mereka dibalas tuba. Kini mereka murka tak lagi pengertian dan tak butuh diplomasi. Sangat ironis mencium dinding kronis.

Diri kecewa penuh sesal. Mendaki tangga menuju kamar peristirahatan sementara menjelang esok hari. Masih terasa panas dan gerah jua. Semakin paksa diri mengeluh tak tentu. Gerbang meraih tidur lelap terkunci kokoh. Akhirnya terbuka lebar saat bala tentara ngantuk mendobrak.

Diri pun tertidur tak lelap. Sedikit tersentak kejang saat panas masih kuasai udara. Mahal untuk membuka mata karena ngantuk jauh lebih murah. Diri larut tertidur hingga bangun di esok pagi hari.


07.49 Sun
31/06/2009